Testimoni UTS

Label:

Ujian kali ini adalah ujian kedua yang saya ikuti dengan metode online. Ujian pertama saya pada saat mengikuti MK Kreativitas. Walaupun sudah pernah Ujian dengan metode ini rasanya tetap saja mengasyikan. Dalam Ujian kali ini tidak ada kendala teknis, dan saya juga sudah tidak bingung lagi karena sudah terbiasa.  Ujian seperti ini sangat menarik karena mengasah kemampuan saya berpikir kritis karena di MK lainnya kita harus menghapal teoritisnya saja. Selain itu ujian online dapat mencegah global warming karena kita tidak memakai kertas ujian. Mungkin yang menjadi kendala adalah karena pada saat UTS ini dimulai kami selalu kuliah sampai sore dan harus belajar lagi malamnya untuk UTS mata kuliah lainnya, jadinya harus pintar-pintar bagi waktu. Tapi Ujian ini berakhir juga dan terlaksana dengan sangat baik ^_^

Semoga ujian UAS juga seperti ini heheheJ

Dalam ujian kali ini jika dilihat dari segi pendidikannya ini termasuk Student Centered.  Ini dikarenakan Ibu Dina memberikan soal yang digunakan sebagai kerangka berpikir (berupa soal ujian) dan kami secara mandiri mengembangkan kerangka berpikir yang diberikan dengan menjawab soal ujian. Ibu Dina menjadi pengamat pasif dengan melihat dan memberikan stimulus kepada kami dan kami sendiri harus berperan aktif didalamnya. 

Dan metode Ujian seperti ini juga termasuk pedagogi modern. Seni mengajar yang dimiliki Ibu Dina yaitu dengan menggunakan teknologi yang sudah ada dan memanfaatkannya untuk membuat ujian yang lebih efektif serta efisien. Selain itu juga tetap ada transformasi ilmu dari ibu yang saya dapatkan. Jadi Ujian kali ini merupakan kolaborasi antara seni dan ilmu yang merupakan pengertian dari pedagogi modern itu sendiri.


Kegiatan mengajar yang unggul dipandang sebagai suatu proses akademik dimana siswa termotivasi belajar secara berkelanjutan terutama dalam hal perasaan dan pemikiran muridnya. Dalam Ujian kali ini Ibu Dina juga mengispirasi agar kami berpikir dengan lebih luas dengan menjawab soal ujian dan metode kuliah online memotivasi saya untuk belajar lebih lanjut di MK ini.


UTS Pedagogi

Pedagogis Praktis

Label:

Nama Anggota Kelompok

Paedagogi praktis itu adalah pengaplikasian ilmu pedagogi didalam kegiatan mengajar. Tidak semua guru bisa mengaplikasikan sistem pendidikan yang baik maka dibutuhkan ilmu pedagogi praktis untuk membantu/membimbing para pengajar dalam mengaplikasikan ilmu sistem pendiidikan yang baik.

Kalau mengingat masa sekolah ada berbagai macam kepribadian guru. Ada yang suka ngasih tugas , ada yang suka marah, ada yang tegas, ada yang humoris ada yang kejam, ada juga yang pemalas dll.Perbedaan cara mengajar mereka adalah seni mengajar mereka. Jika dilihat dari unsur pedagogisnya maka guru yang baik adalah yang memiliki 10 kualitas:
  • Percaya diri
  •  Sabar
  • Rasa Kasih sayang kepada siswanya
  • Pemahaman
  • Mampu menjelaskan topik dengan cara yang berbeda
  • Dedikasi untuk keunggulan siswanya
  • Teguh dalam memberi dukungan
  • Kesediaan untuk membantu siswa mencapai prestasi
  •  Bangga atas prestasi siswa
  • Bersemangat dalam mengerjakan tugas-tugasnya

Jika dilihat dari sepuluh poin diatas berdasarkan pengamatan saya, saya rasa guru guru sekarang terbentur di poin no 5,10.

Poin 5 adalah mampu menjelaskan topik dengan cara yang berbeda, guru cenderung mengajarkan siswa-siswanya dengan cara yang seperti itu saja, jarang guru menggunakan teknologi dalam menjelaskan materinya kepada murid-muridnya. Namun ada juga yang mampu melaksanakan poin ke 5 ini. Seperti  guru fisika saya dulu, mungkin karena faktor usia beliau menjelaskan segala sesuatu persis seperti dibuku sampai contoh soal saja diambil dibuku. Padahal contoh soalnya mudah . Akibatnya pada saat ujian kami menjumpai soal yang sulit kami kesusahan. Selain itu guru hanya mengajar teoritisnya saja tidak praktisnya atau penyelesaian masalah secara logis.

Sedangkan poin kesepuluh adalah bersemangat dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Ada beberapa guru saya dulu sangat malas mengerjakan tugas-tugasnya. Biasanya mereka akan memberikan tugas lalu hilang entah kemana ataupun memberikan bahan untuk dicatat dan menginstruksikan salah satu murid untuk mencatat dan guru tersebut pergi entah kemana. Kertas ujian pun gak jelas apa diperiksanya atau dibuangnya. 

refrensi:
Sudarwan Danim, (2010), Pedagogi, Andragogi, dan Heutagogi, Bandung : Alfabeta

Pedagogi Praktis abad ke 21

Label: ,

Pembahasan mengenai pedagogi sudah lama berlangsung sejak dahulu kala, walaupun definisinya nyaris tidak pernah berubah namun kajiannya berubah sepanjang berkembangnya zaman. Pedagogi pada abad ke 21 dikenal sebagai pedagogi progresif hal ini dikarenakan perubahan TIK mengakibatkan perubahan besar dalam pola pembelajaran. Pedagogi itu sendiri bukan hanya seni atau ilmu mengajar namun juga mendorong banyak orang untuk mendesain ulang dan pemahaman ulang kurikulum yang sesuai dengan siswa. Pedagogi terbagi atas 2 kategori yaitu pengetahuan pedagogi formal dan pengetahuan pedagogis vernakular (McNamara,1991). Pedagogis formal bermakna pedagogi teoritis sedangkan pedagogis vernakular bermakna pedagogis praktis.Pedagogis formal merupakan upaya pengembangan teori teori pedagogis dengan penelitian yang sistematis dan bersifat lebih abstrak dari pada pedagogis vernakular.

Pada tataran pembelajaran tidak ada perbedaan antara pedagogis praktis dengan ilmiah meskipun begitu pedagogi praktis yang baik harus didasari oleh teori pedagogi yang sudah teruji
Dalam laporan yang dikeluarkan OECD diungkapkan perlu adanya perumusan kebijakan praktik pendidikan yang didukung oleh pengetahuan pedagogi. Ada 3 aspek yang saling terkait untuk memahami dan menyelesaikan masalah ini yaitu:

1.  Codifying and communicating teacher’s practical pedagogical knowledge.
Menurut shulman masalah utama dalam mengajar adalah kurangnya pemahaman terhadap karya terbaik dari praktisi kontemporer terhadap masa depan peserta didik. Maksudnya adalah sulitnya untuk mengkomunikasikan pengetahuan pedagogis guru secara langsung

  2.  Establishing systems for shared scientific pedagogical knowledge management.
Membangun sistem pedagogis untuk berbagi pengetahuan manajemen ilmiah dan menyediakan waktu yang cukup bagi guru untuk mengembangkan dan menerapkan pengetahuan ini

  3.  Developing a robust theoretical framework for the new science of pedagogy.
            Mengembangkan kerangka teori yang kuat terhadap ilmu pedagogi

Refrensi
Sudarwan Danim, (2010), Pedagogi, Andragogi, dan Heutagogi, Bandung : Alfabeta